Tgk Muhammad Shafwan, S.Pd.I, M.Pd
Tgk Muhammad Shafwan, S.Pd.I, M.Pd
Online
Assalamu'alaikum Wr. Wb. 👋
Ada yang bisa kami bantu saudaraku?

Epistemologi dan Perjalanan Manusia Menjinakkan Kebenaran

Epistemologi dan Perjalanan Manusia Menjinakkan Kebenaran

  • Diposting oleh : CATATAN SANTRI
  • pada tanggal : Januari 14, 2026

Epistemologi dan Perjalanan Manusia Menjinakkan Kebenaran

Oleh : Muhammad Arif Maulana

(Mahasiswa Pasca Sarjana HKI UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe)

Epistemologi adalah refleksi terdalam manusia tentang pengetahuan. Ia muncul dari kegelisahan sederhana tetapi sangat fundamental: “Bagaimana aku tahu bahwa aku mengetahui?” Pertanyaan ini terdengar abstrak, namun sesungguhnya menjadi fondasi bagi segala ilmu, keyakinan, bahkan cara kita menjalani hidup. Epistemologi pada dasarnya adalah usaha besar manusia untuk menjinakkan kebenaran. Sejak manusia pertama kali bertanya “apa yang sedang aku lihat?”, “apakah ini nyata?”, hingga perdebatan gigih para filsuf modern, persoalan pengetahuan tidak pernah hilang dari panggung sejarah. Pertanyaan pokok epistemology apa itu pengetahuan, bagaimana kita mengetahuinya, dan seberapa jauh kita dapat mengetahui adalah pertanyaan yang membentuk cara kita memandang dunia.

pengetahuan bukan hanya tumpukan informasi, melainkan buah dari perjalanan panjang yang melibatkan kesadaran, argumentasi, dan pembuktian. Kita mengenal dan memahami sesuatu lewat berbagai jalur: lewat indera yang menangkap dunia fisik, lewat akal yang merumuskan makna, lewat intuisi yang tiba-tiba memberi kita pemahaman, dan lewat wahyu yang menghubungkan manusia dengan kebenaran transendental. Keempat jalur ini menunjukkan betapa rumitnya diri manusia bukan sekadar makhluk rasional, tetapi juga spiritual dan intuitif.

Dari titik inilah perjalanan epistemologi terbentuk dalam sejarah. Di Yunani kuno, Plato dan Aristoteles berdebat soal mana yang lebih unggul: dunia ide atau pengalaman empiris. Masuk ke era Renaisans, sains bangkit lewat observasi dan eksperimen. Sementara zaman modern menekankan objektivitas dan metode ilmiah. Pada akhirnya, lahirlah tiga wilayah pengetahuan yang saling berkaitan dan tak bisa dipisahkan.

1Epistemologi Sains: Di ranah ini, klaim kebenaran harus lolos uji observasi dan verifikasi. Sains tidak tunduk pada keyakinan maupun dogma—yang dihormatinya hanyalah bukti. Bahkan kebenaran ilmiah bersifat sementara: hari ini dianggap valid, esok bisa tumbang jika muncul data yang lebih kuat.

2. Epistemologi Filsafat: Filsafat tidak merasa cukup hanya dengan kumpulan data. Ia membongkar kerangka berpikir, menelaah asumsi, dan menimbang logika. Filsafat justru berani melontarkan pertanyaan yang sering luput dari sains: mengapa sesuatu dianggap benar? dan apa arti kebenaran itu sendiri?

3. Epistemologi Mistis: Jalur yang satu ini berangkat dari pengalaman batin. Pengetahuan tidak disusun melalui definisi atau proposisi, melainkan dirasakan dan dihayati. Dalam tradisi ini, kebenaran lebih menyerupai perjumpaan personal daripada sebuah kesimpulan rasional.

Menariknya, ketiga pendekatan itu tidak saling meniadakan, tetapi justru memperlihatkan sisi-sisi kebenaran dari sudut pandang yang berbeda. Sains menjelaskan bagaimana realitas bekerja, filsafat mempertanyakan mengapa demikian, sementara mistisisme mencoba menjawab untuk apa semuanya bermakna.

Meski begitu, epistemologi juga mengingatkan bahwa pengetahuan tidak muncul tanpa syarat. Sebuah pernyataan belum layak disebut pengetahuan jika tidak memenuhi standar tertentu: ada yang mengharuskan kesesuaian dengan fakta (korespondensi), ada yang menuntut konsistensi dalam sistem gagasan (koherensi), ada yang memandang benar karena bermanfaat (pragmatisme), dan ada pula yang berdasar pada kesepakatan sosial. Seluruh standar ini menunjukkan bahwa kebenaran bukanlah satu jalur lurus, tetapi jejaring yang saling menguatkan.

Di balik pencarian besar ini terdapat kesadaran yang jauh lebih mendasar: manusia memiliki batas dalam mengetahui. Indera kita hanya menangkap sebagian kecil realitas, akal dibatasi bahasa dan konsep, intuisi dapat menyesatkan, bahkan wahyu pun membutuhkan penafsiran oleh manusia. Justru kesadaran akan keterbatasan inilah yang menjadikan epistemologi sebuah disiplin yang menumbuhkan kerendahan hati sekaligus memberi ruang harapan.

Pada akhirnya, epistemologi tidak hanya menjadi cabang filsafat, tetapi juga peta arah bagi peradaban. Tanpanya kita mudah hanyut dalam dogma, termakan hoaks, dan larut dalam klaim-klaim tanpa dasar. Melalui epistemologi, manusia dididik bukan sekadar untuk percaya, tetapi untuk memahami, dan bukan hanya memahami tetapi juga memikul tanggung jawab atas keyakinannya.

Di tengah era digital yang sesak oleh informasi tanpa penyaring, epistemologi berfungsi sebagai benteng kewarasan terakhir: ia mengingatkan bahwa kebenaran harus dicari, diuji, dan dimengerti bukan sekadar ditelan mentah-mentah.

Note: Tulisan Ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis.

 

Berbagi

Posting Komentar