Tgk Muhammad Shafwan, S.Pd.I, M.Pd
Tgk Muhammad Shafwan, S.Pd.I, M.Pd
Online
Assalamu'alaikum Wr. Wb. 👋
Ada yang bisa kami bantu saudaraku?

Pentingnya Meluruskan Kiblat Belajar: Manajemen Niat dalam Kehidupan Santri Oleh: Muhammad Sariyulis

Pentingnya Meluruskan Kiblat Belajar: Manajemen Niat dalam Kehidupan Santri Oleh: Muhammad Sariyulis

  • Diposting oleh : CATATAN SANTRI
  • pada tanggal : Januari 13, 2026
Pentingnya Meluruskan Kiblat Pendidikan: Manajemen Niat dalam Kehidupan Santri

Oleh: Muhammad Sariyulis

Apa sebenarnya tujuan menuntut ilmu? Pertanyaan sederhana ini sejatinya merupakan sebuah pertanyaan besar yang sangat urgen bagi kehidupan seorang pelajar, lebih-lebih lagi bagi mereka yang sedang meniti jalan menuntut ilmu agama atau yang akrab disapa sebagai santri. Di tengah arus modernitas yang kian kencang, jawaban atas pertanyaan ini sering kali terkubur di bawah tumpukan rutinitas formalitas. Padahal, tanpa pemahaman tujuan yang fundamental, aktivitas belajar hanya akan menjadi gerakan hampa tanpa makna.

Dayah sebagai Benteng Peradaban

Dayah atau pesantren merupakan benteng terakhir untuk melanjutkan perjuangan Rasulullah SAW. Sebagai lembaga pendidikan Islam, dayah memiliki tujuan luhur untuk menciptakan generasi-generasi yang berakhlakul karimah. Hal ini sangat selaras dengan visi misi Rasulullah SAW sebagai penyempurna akhlak bagi umat manusia, sebagaimana sabdanya:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ

(Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak).

Selain itu, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 telah mengatur tentang Pesantren sebagai landasan hukum yang mengakui, memfasilitasi, dan meregulasi pesantren sebagai bagian integral Sistem Pendidikan Nasional, menjamin fungsinya sebagai pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat, serta memberikan rekognisi, afirmasi, dan fasilitasi untuk kesetaraan mutu dan akses lulusan pesantren. 

Dalam konteks ini, dayah berdiri sebagai kawah candradimuka yang menempa santri selama 24 jam dengan disiplin ketat. sehingga Pendidikan merupakan pilar penting dalam sebuah kehidupan. Nabi Muhammad SAW bersabda

  مُسْلمطَلَبُ اْلعِلْمْ فَرِثْضَةٌ عَلَى كُلِّ 

 (Menuntut ilmu adalah fardhu bagi muslim laki-laki dan muslim perempuan).

Perlu diingat Pada dasarnya, lingkungan dayah memang tidak menjamin secara mutlak keberhasilan atau baik-buruknya seorang santri secara instan, namun patut kita akui bahwa tidak ada tempat lain yang lebih baik untuk menghadapi tantangan zaman ini melainkan dayah atau pesantren.

Urgensi Niat dalam Pandangan Syekh Az-Zarnuji

Syekh Az-Zarnuji dalam kitab Ta’limul Muta’allim, yang ditulis ratusan tahun yang lalu, telah menyusun sebuah karangan monumental sebagai pedoman dan panduan bagi santri dalam menuntut ilmu untuk mencapai kesuksesan dan keberhasilan. Dalam kitab tersebut, beliau menerangkan betapa banyak perbuatan yang nampaknya buruk karena bagusnya niat ia menjadi baik, dan sebaliknya, betapa banyak perbuatan yang nampaknya baik karena buruknya niat ia menjadi buruk.

Fenomena hari ini menunjukkan tidak sedikit penuntut ilmu yang terjebak dalam kesalahan serta meninggalkan syarat-syarat menuntut ilmu. Salah satu pilar penting dalam belajar adalah niat. Santri harus jujur bertanya pada diri sendiri: Untuk apa kita ke dayah? Untuk apa kita belajar? Apakah hanya untuk menghabiskan belanja pemberian orang tua? Rasulullah SAW bersabda:

 إنَّما الأعمالُ بالنِّيَّاتِ

(Sesungguhnya amalan itu bergantung pada niatnya).

Imam Az-Zarnuji menerangkan sepantasnya niat seorang pelajar dalam menuntut ilmu harus ikhlas serta mengharap rida Allah, mencari kebahagiaan di akhirat, menghilangkan kebodohan pada dirinya dan orang lain, serta menghidupkan agama dan melestarikan Islam. Sebab, Islam akan tetap lestari kalau pemeluknya atau umatnya memiliki ilmu pengetahuan yang mumpuni.

Dilema dan Distorsi Niat di Era Digital

Namun, realitas saat ini memunculkan keresahan yang mendalam. Banyak santri yang terjebak dalam rutinitas formalitas semata bangun Subuh, mengaji, Shalat Jama’ah namun kehilangan "ruh" atau tujuan hakiki dari kegiatan tersebut. Dilema santri di era digital memiliki banyak hambatan dalam mencapai kesuksesan. Hal ini sering kali disebabkan oleh salahnya niat atau tujuan awal.

Pengaruh kawan bergaul yang salah terkadang membuat santri berani membangkang guru. Di sisi lain, pendidikan Islam di era modern cenderung lebih fokus kepada target nilai atau ijazah, tapi lupa pada esensi etika. Padahal, tokoh besar seperti Imam Syafi’i tidak pernah hanya berbicara tentang nilai dan kecerdasan, melainkan sangat mengutamakan adab. Akibatnya, tidak sedikit santri yang belajar di pesantren hanya demi nilai, ijazah, atau sekadar menggugurkan kewajiban dari orang tua. Tanpa arah dan tujuan yang jelas, santri menjadi rentan terhadap distraksi eksternal.

Arus informasi dan gaya hidup di luar dayah sering menguburkan fokus santri terhadap tujuan tafaqquh fiddin (mendalami ilmu agama). Pengaruh era digital dan penggunaan HP yang tidak terkontrol membuat santri kehilangan konsentrasi. Dampak dari niat yang salah ini sangat fatal: munculnya rasa jenuh (futur), perilaku indisipliner, membangkang perintah guru, melanggar peraturan dayah, hingga ilmu yang sulit menetap dalam dada karena hilangnya keberkahan.

Manajemen Niat sebagai Instrumen Disiplin

Manajemen niat harus dijadikan "kemudi" dalam kehidupan santri. Niat bukan sekadar ucapan di awal, melainkan sistem kendali yang harus diperbarui setiap hari. Rasulullah SAW bersabda:

وَعَنْ رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَمْ مِنْ عَمَلِ يُتَصَوَّرُ بِصُورَةِ أَعْمَالِ الدُّنْيَا وَيَصِيرُ بِحُسْنِ النِّيَّةِ مِنْ أَعْمَالِ الْآخِرَةِ. وَكَمْ مِنْ عَمَلٍ يُتَصَوِّرُ بِصُورَةِ أَعْمَالِ الْآخِرَةِ ثُمَّ يَصِيرُ مِنْ أَعْمَالِ الدُّنْيَا بِسُوءِ النِّيَّة

(Banyak perbuatan yang tampak dalam bentuk amalan dunia, tapi karena didasari niat yang baik maka menjadi amal akhirat. Sebaliknya, banyak amalan yang sepertinya amalan akhirat, kemudian menjadi amal dunia karena didasari niat yang buruk).

Perlu diingat bahwa gelar hanyalah sebatas kertas dan ilmu hanya sebatas catatan sementara. Baik buruknya kualitas seorang santri akan terlihat nyata dari tingkah lakunya. Oleh karena itu, adab harus mendahului ilmu. Disiplin di dayah seharusnya dilakukan bukan karena takut pada pengurus, tapi karena hormat pada ilmu itu sendiri. 

Filosofi tirakat juga harus dikonstruksi ulang. Rasa kantuk, lelah, dan aturan ketat di dayah bukanlah siksaan, melainkan bagian dari "investasi spiritual" untuk menjemput rida Allah.

Implementasi dan Langkah Strategis

Dalam tataran praktis, manajemen dayah harus berperan aktif. Diantaranya Mendisiplinkan Guru serta menjadikan guru sebagai teladan Guru bukan hanya pemberi materi, tapi merupakan transfer of value (pemindah nilai) dan uswatun hasanah (teladan baik).

Mengawasi dan mengoptimalisasi Lingkungan dayah, hal ini dapat mendukung terjaganya niat santri, selanjurnya melaksanakan kegiatan tazkiyatun nufus atau muhasabah rutin. Manajemen dayah perlu melaksanakan kegiatan seperti tawajuh atau tafakkur, serta mengawasi kegiatan santri dengan ketat, baik di kelas, di balai, maupun di luar lingkungan kelas. Bagi santri sendiri, self-management atau pengelolaan diri sangat penting untuk menjaga konsistensi niat di tengah rasa jenuh.

Selain penguatan internal, hal yang tidak kalah krusial adalah membangun sinergi koordinasi antara pihak dayah dan wali santri. Manajemen niat dan disiplin santri akan berjalan maksimal jika terjalin kesinambungan: guru mendidiknya dengan ketulusan selama di dayah, dan orang tua konsisten menjaga serta memantau perkembangannya saat santri berada di rumah."

Kesimpulan

Kedisiplinan yang dipaksakan secara lahiriah tanpa dasar spiritual hanya akan melahirkan "robot". Namun, kedisiplinan yang lahir dari niat yang lurus akan melahirkan sosok "ulama" dan "pemimpin" masa depan. Kedisiplinan fisik di dayah tidak akan membuahkan keberkahan ilmu jika tidak dibarengi dengan manajemen niat yang benar sebagai "kiblat" dalam belajar.

Meluruskan kiblat belajar melalui manajemen niat adalah tugas abadi seorang santri. Tujuannya jelas: agar setiap lelah yang dirasakan berubah menjadi lillah, dan ilmunya kelak menjadi cahaya bagi umat. Menuntut ilmu adalah perjalanan panjang, dan niat adalah kompas yang akan memastikan kita sampai pada dermaga keberhasilan yang hakiki.

 

Berbagi

Posting Komentar